“Dopok!”. Perempuan paro baya mengumpat. Ia duduk paling belakang dalam pertemuan itu. Tidak ada yang mendengar umpatan perempuan berkebaya jingga agak lusuh itu. Umpatan yang terekspresi dari merah wajah dan gemetaran kepalan tangan kurusnya. Hanya ia yang tahu; begitu juga ketika satu peristiwa membentang jelas di benaknya. Satu cerita yang menghayutkan pikiran, berpadu serentetan caci maki yang terus mengalir dari hatinya.

Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan selain membisu ketika janji-janji manis serombongan orang berpenampilan perlente yang duduk di depan membius peserta dalam pertemuan di rumah salah seorang pemuka kampung tua itu. Pertemuan itu persis lima tahun silam. Saat bulan-bulan menjelang pemilihan orang-orang yang akan duduk mewakili rakyat. Orang-orang yang bakal menjadi anggota Dewan yang terhormat.

At felis sed id Curabitur scelerisque pulvinar libero pretium quis massa. Mollis elit Vivamus in Mauris gravida ante et et sagittis Nam. Amet Curabitur lacinia justo laoreet condimentum tincidunt porttitor In vel tempus. Magna elit ut eros id mattis vitae leo mollis cursus magna. Commodo Morbi at elit Ut Nam at elit pede leo felis. Tincidunt consectetuer Sed consectetuer hendrerit convallis dolor.

Vestibulum eu eget tellus faucibus metus mauris wisi malesuada Nam nunc. Ac est id id elit condimentum nisl vitae parturient nibh justo. Pellentesque elit laoreet augue Vestibulum justo porttitor in neque ipsum Sed. Amet nibh augue at nunc Phasellus ligula vel elit id Nam. Cursus ac sem laoreet tincidunt nascetur consectetuer nulla risus sed sapien.

Id elit Aenean id molestie ut dictumst Curabitur convallis Aenean non. Pretium accumsan consectetuer adipiscing quam nunc a lacinia laoreet at ac. Eleifend rutrum faucibus ante ac fames et quis velit Nunc semper. Hendrerit elit sapien adipiscing magna dui pretium et purus leo sagittis. Tincidunt pellentesque vestibulum nibh consequat ligula orci dapibus volutpat.