Upaya menghidupkan kembali budaya ronda malam sebagai benteng keamanan berbasis masyarakat kini digaungkan serius oleh Polres Lampung Selatan. Melalui program Sabuk Kamtibmas 1.000 Kentongan, aparat kepolisian mengajak warga untuk kembali aktif menjaga lingkungan secara kolektif sekaligus memperkuat sistem komunikasi darurat di tingkat desa.


Komitmen tersebut ditandai dengan Apel Sabuk Kamtibmas 1.000 Kentongan yang digelar di Lapangan Apel Mapolres Lampung Selatan, Rabu (8/4/2026), dipimpin langsung Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri. Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, jajaran kepolisian, organisasi kemasyarakatan, serta elemen masyarakat.


Sebagai simbol dimulainya program, dilakukan penyerahan kentongan kepada perwakilan masyarakat. Kentongan—alat tradisional yang lekat dengan sistem keamanan kampung—kini kembali dihidupkan sebagai sarana komunikasi cepat saat kondisi darurat.


Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri, menegaskan bahwa kentongan bukan sekadar simbol budaya, melainkan alat efektif untuk membangun respons kolektif masyarakat.


“Kalau ada gangguan keamanan, pukul kentongan. Itu akan mengundang perhatian warga untuk bersama-sama bertindak, tentunya dalam hal positif,” ujarnya.


Program ini menjadi bagian dari strategi memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat dalam menjaga ketertiban lingkungan. Toni menyebutkan, tantangan keamanan di wilayah Lampung Selatan masih cukup tinggi.


Berdasarkan data sejak Januari 2026, tercatat 197 kasus kejahatan 3C—meliputi pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, dan pencurian kendaraan bermotor—serta 99 kasus kecelakaan lalu lintas.


“Angka ini tergolong tinggi. Karena itu, perlu sinergi semua pihak dalam menekan angka kriminalitas,” tegasnya.


Tak hanya itu, Kapolres juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika global yang dapat berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi di tingkat lokal. Ia menyoroti pula agenda nasional seperti peringatan Hari Buruh (May Day) yang berpotensi melibatkan mobilisasi massa dalam jumlah besar.


“Apapun kebijakan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan masyarakat harus bersama-sama mengamankan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” lanjutnya.


Lebih jauh, Toni Kasmiri mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar di media sosial, serta terus memperkuat kolaborasi lintas sektor.


“Polri tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan TNI dan masyarakat. Mari kita jaga Lampung Selatan bersama-sama,” pungkasnya.


Melalui program Sabuk Kamtibmas 1.000 Kentongan, diharapkan budaya gotong royong dalam menjaga keamanan lingkungan kembali hidup, sekaligus menjadi solusi sederhana namun efektif dalam menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. (Jasmin)