Keberhasilan Desa Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, dalam mengembangkan beragam inovasi dinilai tidak semestinya berhenti sebagai capaian dalam penilaian Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026.


Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama justru ingin berbagai praktik baik yang lahir dari kreativitas masyarakat Karang Pucung dapat dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan di wilayah lain.


Pesan tersebut disampaikan Bupati Egi usai mengikuti penilaian Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026 di Aula Kantor Desa Karang Pucung, Senin (5/10/2026).


Menurut Egi, pembangunan tidak semata-mata lahir dari kebijakan pemerintah kabupaten. Desa juga memiliki kemampuan untuk melahirkan berbagai inovasi yang berangkat dari kebutuhan, potensi, serta kreativitas masyarakat.


Karena itu, pemerintah tidak hanya perlu melihat desa dari sisi hasil penilaian, tetapi juga menjadikan proses dan inovasi yang berkembang di dalamnya sebagai sumber pembelajaran.


“Saya sebagai bupati pun juga belajar dari kepala desa,” ujar Bupati Egi.


Ia menyebut Karang Pucung memiliki sejumlah praktik baik yang layak menjadi bahan pembelajaran. Mulai dari pengelolaan lingkungan dan sampah, pengelolaan keuangan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan potensi ekonomi desa.


Berbagai inovasi tersebut, kata Egi, perlu dilihat secara lebih luas. Perangkat daerah diminta tidak memandang keberhasilan Karang Pucung hanya sebagai prestasi dalam sebuah perlombaan.


Sebaliknya, inovasi yang telah berjalan perlu dipetakan untuk melihat bagian mana yang dapat diterapkan, disesuaikan, kemudian dikembangkan di desa atau wilayah lainnya.


“Yang kita harapkan bukan hanya lombanya, tetapi bagaimana ini menjadi stimulus agar produktivitas dan kreativitas masyarakat terus tumbuh,” katanya.


Bupati Egi mengatakan, setiap desa memiliki karakteristik, potensi, dan kekuatan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pola yang sepenuhnya seragam.


Tantangannya adalah bagaimana pemerintah mampu mengenali potensi tersebut, menemukan faktor yang dapat menjadi pengungkit, kemudian membangun kolaborasi agar potensi yang ada dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.


Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun pola pembangunan yang berbasis pada kinerja dan potensi desa.


Desa yang mampu menunjukkan prestasi sekaligus mengembangkan potensi masyarakat, menurut Egi, perlu diberikan ruang untuk terus tumbuh. Lebih jauh, keberhasilannya dapat menjadi sumber pembelajaran bagi desa-desa lainnya.


Dalam pandangan Egi, penilaian atau Lomba Desa bukan semata-mata tentang menentukan siapa yang terbaik.


Lebih dari itu, proses tersebut menjadi ruang untuk menemukan berbagai inovasi yang selama ini telah berjalan di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, penilaian desa juga dapat menjadi pemicu agar desa terus meningkatkan kreativitas dan produktivitas.


Egi berharap praktik baik yang berkembang di Karang Pucung tidak berhenti di tingkat desa maupun nasional. Inovasi tersebut diharapkan dapat ditularkan kepada desa-desa lain di Kabupaten Lampung Selatan.


Dengan pola saling belajar, pembangunan antardesa tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keberhasilan satu desa dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi masing-masing.


Semangat tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun ekosistem pembangunan desa yang saling menguatkan.


“Yang kita butuhkan adalah tangan bersama,” ujar Bupati Egi.


Melalui kolaborasi dan budaya saling belajar itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap potensi desa semakin berkembang, produktivitas masyarakat meningkat, dan aktivitas ekonomi lokal ikut bergerak.


Karang Pucung pun diharapkan tidak hanya dikenang sebagai peserta dalam penilaian desa tingkat nasional, tetapi mampu menjadi salah satu contoh praktik pembangunan yang menginspirasi desa-desa lain di Kabupaten Lampung Selatan.


Sebab, bagi Egi, ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukan semata-mata ketika berhasil meraih penilaian terbaik, melainkan ketika inovasi tersebut mampu memberi manfaat, ditiru, dikembangkan, dan pada akhirnya menggerakkan lebih banyak masyarakat. (Jasmin)