Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menyiapkan “amunisi” besar untuk membangkitkan kembali budaya gotong royong dan kepedulian lingkungan masyarakat desa. Tak tanggung-tanggung, total hadiah senilai Rp10 miliar disiapkan dalam bentuk program pembangunan jalan lingkungan bagi para pemenang Lomba Desa HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul) Tahun 2026.


Program ini bukan sekadar lomba kebersihan biasa. Pemkab Lampung Selatan ingin menjadikan Desa HELAU sebagai gerakan kolektif yang mampu mengubah wajah desa, mulai dari budaya hidup bersih, penataan lingkungan, hingga penguatan partisipasi masyarakat.


Keseriusan itu kembali ditegaskan dalam rapat koordinasi mingguan yang dipimpin Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, M. Darmawan, di Aula Rajabasa, kantor bupati setempat, Senin (25/5/2026).


Dalam arahannya, Darmawan menyampaikan pesan khusus dari Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, agar Program Desa HELAU tidak berhenti sebagai agenda seremonial pemerintahan semata.


Menurutnya, program tersebut harus benar-benar hadir di tengah masyarakat dan menjadi budaya baru yang tumbuh dari kesadaran bersama.


“Program ini bagaimana bisa sampai ke tengah masyarakat. Jadi para camat nanti juga harus menyampaikan kepada masyarakat apa itu Desa HELAU. Jangan sampai masyarakat tidak mengerti, seolah-olah program ini berhenti di pemerintah saja,” ujar Darmawan di hadapan jajaran perangkat daerah dan para camat yang mengikuti rapat secara virtual.


Ia menekankan, para camat harus menjadi motor penggerak sosialisasi di wilayah masing-masing, baik melalui forum formal maupun pendekatan nonformal hingga tingkat RT dan RW.


Bagi Pemkab Lampung Selatan, desa yang “HELAU” bukan hanya soal lingkungan bersih. Lebih jauh, desa juga dituntut memiliki tata kelola yang baik, ruang publik yang nyaman, masyarakat yang aktif bergotong royong, serta mampu menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.


Untuk memastikan semangat itu benar-benar dipahami masyarakat, Pemkab Lampung Selatan telah menyiapkan agenda sosialisasi maraton mulai 2 hingga 11 Juni 2026.


Kegiatan tersebut akan digelar di delapan titik strategis yang menjangkau seluruh 17 kecamatan di Lampung Selatan dengan melibatkan pemerintah desa beserta operator desa.


Dalam sosialisasi itu, para aparatur desa akan dibekali pemahaman menyeluruh mengenai indikator penilaian, mekanisme penginputan data, hingga teknis pelaksanaan lomba.


Tahapan kompetisi sendiri akan dimulai dari proses penilaian administrasi dan penginputan data desa. Setelah itu, tim juri akan turun langsung melakukan verifikasi lapangan untuk menyaring 10 desa terbaik.


Selanjutnya, lima desa terbaik akan memasuki tahap presentasi akhir di hadapan Bupati Lampung Selatan dan tim juri di Aula Pemkab.


Menariknya, penghargaan yang diberikan tidak berbentuk trofi atau uang tunai semata. Pemkab memilih skema penghargaan berbasis pembangunan agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.


Juara pertama akan memperoleh program pembangunan jalan lingkungan senilai Rp1 miliar. Juara kedua mendapatkan Rp700 juta, juara ketiga Rp500 juta, dan juara harapan Rp400 juta.


Sementara itu, desa-desa lain yang berhasil masuk dalam 40 besar tetap akan mendapatkan bantuan pembangunan dengan nilai rata-rata Rp200 juta per desa.


Skema ini diyakini menjadi pendekatan baru yang lebih efektif karena mendorong kompetisi sehat sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat desa.


Melalui Program Desa HELAU, Pemkab Lampung Selatan tampaknya sedang menanam investasi sosial jangka panjang: membangun desa yang bukan hanya bersih dan hijau, tetapi juga mandiri, tertib, serta memiliki semangat gotong royong yang kembali hidup di tengah masyarakat. (Jasmin)