Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui koordinasi lintas sektor dan langkah mitigasi yang terukur. Upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir, sekaligus menjamin informasi yang diterima publik tetap akurat sehingga tidak memicu kepanikan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat koordinasi pembahasan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan bersama seluruh pemangku kepentingan di Kantor BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Kamis (9/7/2026).
Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat sinergi antarlembaga dalam menghadapi potensi bencana, dengan mengedepankan langkah mitigasi berbasis data dan kesiapsiagaan masyarakat.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menjelaskan bahwa kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada kategori aman bagi masyarakat di wilayah pesisir Lampung Selatan.
Menurutnya, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini sekitar 157 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh lebih rendah dibandingkan saat terjadi longsoran yang memicu tsunami pada 2018, ketika tinggi gunung mencapai sekitar 338 mdpl.
"Pada saat itu ketinggian gunung sekitar 338 mdpl sehingga beban di puncaknya jauh lebih besar dan mampu mendorong air laut hingga ke daratan. Saat ini ketinggiannya sekitar 157 mdpl. Mudah-mudahan apabila terjadi longsoran, dampaknya tidak akan sebesar yang pernah terjadi," ujar Andi.
Ia menjelaskan, ancaman yang paling berpotensi dirasakan masyarakat selama aktivitas vulkanik berlangsung adalah hujan abu apabila arah angin bertiup menuju daratan Lampung. Dalam kondisi tersebut, masyarakat cukup menggunakan masker untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik.
"Hingga saat ini belum terdapat dampak langsung yang membahayakan masyarakat," katanya.
Andi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, informasi resmi hanya berasal dari BPBD dan instansi berwenang.
"Pada 8 Juli kemarin memang tercatat terjadi tujuh kali erupsi sejak tengah malam hingga pukul 12.00 siang. Setelah itu aktivitas kembali menurun. Karakter Gunung Anak Krakatau memang seperti itu. Ketika energinya habis, aktivitas akan kembali tenang sampai energi baru kembali terbentuk. Tetap waspada, tetapi masyarakat tidak perlu panik," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, mengatakan aktivitas erupsi yang terjadi saat ini merupakan proses pelepasan energi dari dalam gunung. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi potensi terjadinya ledakan yang lebih besar. Meski demikian, pemerintah daerah tetap meningkatkan berbagai langkah mitigasi sebagai bentuk antisipasi terhadap segala kemungkinan.
Maturidi meminta seluruh camat di wilayah pesisir bersama kepala desa segera memeriksa kembali kondisi rambu-rambu jalur evakuasi, memastikan titik kumpul dalam kondisi siap digunakan, serta melakukan pengecekan berkala terhadap seluruh sarana dan prasarana penanggulangan bencana.
Selain itu, ia menekankan pentingnya koordinasi yang solid antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) agar kesiapsiagaan masyarakat terus terjaga.
"Kita tentu tidak menginginkan musibah terjadi. Namun kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan. Jangan sampai kita lengah. Mitigasi harus terus dilakukan agar apabila terjadi kondisi darurat, seluruh unsur sudah siap bertindak dengan cepat dan tepat," tegas Maturidi.
Melalui koordinasi lintas sektor tersebut, Pemkab Lampung Selatan memastikan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan secara intensif bersama seluruh instansi terkait.
Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mengikuti arahan pemerintah dan petugas pemantau gunung api sebagai langkah bersama dalam menjaga keselamatan masyarakat di wilayah pesisir Lampung Selatan. (Jasmin)