Permainan domino tak lagi sekadar menjadi aktivitas rekreatif di tengah masyarakat. Di Kabupaten Lampung Selatan, permainan yang mengandalkan ketelitian dan strategi itu kini dikemas menjadi sebuah kompetisi olahraga yang menjangkau masyarakat di seluruh kecamatan.
Turnamen Olahraga Domino (Orado) tingkat kecamatan se-Kabupaten Lampung Selatan mulai bergulir pada Sabtu (17/10/2026). Kompetisi yang digelar secara bergiliran di 17 kecamatan tersebut akan berlangsung hingga 8 November 2026.
Kecamatan Kalianda menjadi salah satu lokasi pembuka. Turnamen yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) itu digelar bersamaan dengan pertandingan perdana di Kecamatan Rajabasa.
Pertandingan di Kalianda berlangsung di Kantor Kecamatan Kalianda. Sejumlah peserta tampak serius mengikuti jalannya pertandingan, menyusun strategi dan membaca setiap kemungkinan dari kartu yang dimainkan.
Bagi penyelenggara, atmosfer kompetisi tersebut bukan semata-mata soal menang dan kalah. Turnamen justru dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan, menjunjung sportivitas sekaligus memperkuat hubungan sosial antarsesama.
Kepala Dispora Lampung Selatan, Muhammad Yusup, mengatakan olahraga domino memiliki unsur strategi yang cukup kuat. Menurutnya, pemain dituntut memiliki konsentrasi, kemampuan membaca permainan hingga ketepatan dalam menentukan langkah.
“Turnamen ini bukan hanya tentang mencari siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana kita membangun kebersamaan, menjunjung tinggi sportivitas dan menjadikan olahraga sebagai sarana mempererat silaturahmi masyarakat Lampung Selatan,” ujar Yusup saat membuka Turnamen Orado di Kecamatan Kalianda.
Ia menilai kompetisi tingkat kecamatan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyalurkan minat dan kemampuan mereka dalam olahraga domino melalui pertandingan yang terarah dan mengikuti aturan.
Kehadiran turnamen di berbagai kecamatan juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dari beragam wilayah. Dengan demikian, olahraga domino tidak hanya berkembang sebagai permainan, tetapi juga menjadi aktivitas kompetitif yang dapat mempertemukan warga dalam suasana yang sehat dan positif.
Yusup turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus Orado, pemerintah kecamatan, Komite Olahraga Kecamatan (KOK), panitia, perangkat terkait serta masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kompetisi.
Ia berpesan kepada seluruh peserta agar menjaga kekompakan, menaati ketentuan pertandingan dan tetap menghormati lawan.
Menurutnya, kemenangan memang menjadi bagian dari sebuah kompetisi. Namun, nilai yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap peserta mampu menjaga sikap sportif dan menjadikan pertandingan sebagai momentum memperluas persaudaraan.
Setelah pembukaan di Kalianda dan Rajabasa pada 17 Oktober, rangkaian Turnamen Orado akan berlanjut ke sejumlah kecamatan.
Pada 18 Oktober, pertandingan dijadwalkan berlangsung di Penengahan, Bakauheni dan Ketapang.
Kemudian pada 24 Oktober, giliran Palas dan Sragi menjadi tuan rumah. Sehari berikutnya, 25 Oktober, pertandingan berlanjut di Sidomulyo dan Way Panji.
Memasuki akhir Oktober, turnamen digelar di Candipuro dan Way Sulan pada 31 Oktober, kemudian berlanjut ke Katibung dan Merbau Mataram pada 1 November.
Rangkaian pertandingan tingkat kecamatan akan ditutup di Tanjung Bintang dan Tanjung Sari pada 7 November, serta Natar dan Jati Agung pada 8 November 2026.
Dari rangkaian pertandingan tersebut, para pemenang dari masing-masing kecamatan akan mendapatkan kesempatan melanjutkan persaingan dalam Turnamen Orado Bupati Cup tingkat Kabupaten Lampung Selatan.
Tahapan tersebut menjadi panggung berikutnya bagi peserta terbaik untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam kompetisi dengan cakupan yang lebih luas.
Dengan menjangkau 17 kecamatan, Turnamen Orado Lampung Selatan menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan olahraga sekaligus membangun budaya kompetisi yang sehat.
Domino yang selama ini lekat dengan aktivitas permainan di lingkungan masyarakat, melalui turnamen tersebut mendapat ruang untuk dikembangkan sebagai olahraga yang mengedepankan konsentrasi, kecermatan, strategi dan pengambilan keputusan.
Lebih dari sekadar mengejar gelar juara, kompetisi ini diharapkan mampu memperkuat interaksi antarmasyarakat.
Di balik deretan kartu yang dimainkan, ada pertemuan warga, komunikasi, persahabatan dan semangat untuk berkompetisi secara sehat.
Pada akhirnya, Turnamen Orado bukan hanya tentang siapa yang paling piawai menyusun strategi, tetapi juga bagaimana olahraga menjadi jembatan untuk mempererat silaturahmi, menjaga kebersamaan dan menumbuhkan sportivitas di tengah masyarakat Lampung Selatan. (Jasmin)