Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, menjadi santri tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu agama. Santri juga dituntut memiliki wawasan luas, mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tetap kokoh menjaga akhlak sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, saat membuka Musabaqah Santri Lampung Selatan (Musalsal) ke-I yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Lampung Selatan di Pondok Pesantren Alhamid, Desa Cintamulya, Kecamatan Candipuro, Sabtu (17/10/2026).
Digelar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, Musalsal menjadi ruang bagi para santri untuk mengembangkan potensi, mengasah kemampuan, meraih prestasi, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an dan ilmu agama.
Dalam sambutannya, Syaiful mengapresiasi RMI PCNU Lampung Selatan bersama Pondok Pesantren Alhamid yang telah menghadirkan Musalsal sebagai wadah pembinaan dan pengembangan kemampuan santri.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus dihadapi dengan kesiapan, bukan dihindari. Santri harus mampu mengambil manfaat dari kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai agama dan jati dirinya.
«“Santri harus mampu menguasai ilmu agama sekaligus membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah generasi yang kuat imannya, luas wawasannya, luhur akhlaknya, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujar Syaiful.»
Ia menilai pondok pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta karakter yang kuat.
Pendidikan pesantren, kata Syaiful, mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan adab. Kecerdasan perlu dibarengi kerendahan hati, sementara prestasi harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah kemudahan masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi melalui teknologi digital.
Santri, lanjutnya, perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah menerima setiap informasi yang beredar. Kemampuan memilah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, serta bertanggung jawab di ruang digital menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan generasi masa kini.
Lebih dari sekadar perlombaan, Musalsal ke-I diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan generasi muda Islam di Lampung Selatan.
Melalui ajang tersebut, para santri diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus belajar tentang sportivitas, kejujuran, kedisiplinan dan persaudaraan.
Syaiful juga menekankan bahwa keberhasilan seorang santri tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah piala yang berhasil diraih.
Menurutnya, kualitas seorang santri justru tercermin dari akhlak, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari piala yang diraih, tetapi juga dari akhlaknya, penghormatannya kepada guru dan orang tua, serta manfaat yang diberikan kepada lingkungan. Prestasi itu penting, tetapi harus tetap berpijak pada nilai-nilai kejujuran dan adab,” tegasnya.
Musalsal sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran santri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Peringatan Hari Santri Nasional, kata Syaiful, tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk mengenang kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan, menjaga persatuan, serta merawat kehidupan kebangsaan.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian perlombaan dengan sungguh-sungguh dan menjunjung tinggi sportivitas. Kompetisi hendaknya tidak menjadi alasan untuk mengesampingkan persaudaraan dan nilai-nilai keislaman.
Syaiful berharap Musalsal ke-I dapat menjadi langkah awal bagi lahirnya tradisi pembinaan santri yang berkelanjutan di Lampung Selatan.
Tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, Musalsal diharapkan mampu mempererat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kualitas pembinaan santri, serta menumbuhkan generasi muda yang mampu mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga Musalsal ke-I berjalan lancar dan melahirkan santri-santri berprestasi yang mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta siap mengabdi kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Syaiful. (Jasmin)