Persaingan lima desa finalis Lomba Desa HELAU Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2026 memasuki babak penentuan. Bukan sekadar memamerkan inovasi dan program unggulan, setiap desa dituntut membuktikan sejauh mana konsep Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Penentuan tersebut memasuki penilaian tahap III melalui presentasi dan pendalaman materi di hadapan Tim Penilai di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Kamis (15/10/2026).
Tahapan ini menjadi momentum bagi masing-masing desa untuk memperkuat argumentasi, menunjukkan hasil pelaksanaan program, sekaligus meyakinkan tim penilai bahwa berbagai inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga.
Lima desa yang berhasil menembus babak akhir yakni Desa Hargo Pancoran, Kecamatan Rajabasa; Desa Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan; Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan; Desa Sumber Sari, Kecamatan Sragi; dan Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram.
Pembukaan penilaian tahap III dilakukan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, mewakili Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama. Bupati Egi turut mengikuti pemaparan peserta melalui konferensi video, sementara proses pendalaman materi dilaksanakan langsung oleh tim penilai.
Dalam sesi presentasi, setiap desa menguraikan penerapan lima pilar HELAU, mulai dari pengelolaan lingkungan, penataan kawasan, pelestarian, keamanan dan kenyamanan lingkungan, hingga pengembangan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peserta juga memaparkan inovasi unggulan, keterlibatan masyarakat, hasil yang telah dicapai, serta strategi menjaga keberlangsungan program agar tidak berhenti setelah perlombaan berakhir.
Ketua Tim Penilai Lomba Desa HELAU 2026, Darmawan, yang juga menjabat Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, menjelaskan bahwa penilaian tahap III difokuskan pada pendalaman hasil evaluasi sebelumnya, terutama kualitas implementasi program dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Setiap desa memperoleh waktu maksimal 45 menit untuk mengikuti seluruh rangkaian penilaian. Alokasi tersebut mencakup persiapan, pemutaran video profil berdurasi maksimal tiga menit, presentasi selama 10 menit, serta sesi tanya jawab dan pendalaman materi selama 30 menit.
“Setiap desa mendapat waktu maksimal 45 menit, mencakup persiapan, pemutaran video profil berdurasi paling lama tiga menit, presentasi selama 10 menit, serta sesi tanya jawab dan pendalaman selama 30 menit,” kata Darmawan.
Hasil verifikasi lapangan pada tahap sebelumnya menjadi salah satu acuan penting untuk menguji kesesuaian antara materi presentasi, jawaban peserta, dan kondisi faktual di masing-masing desa.
Dengan mekanisme tersebut, penilaian tidak hanya bertumpu pada kemampuan peserta menyampaikan gagasan, tetapi juga mempertimbangkan kesungguhan pelaksanaan program dan kesesuaian hasilnya dengan kondisi di lapangan.
Dalam sambutan Bupati Lampung Selatan yang disampaikan Supriyanto, ditegaskan bahwa Lomba Desa HELAU bukan semata-mata ajang untuk menentukan desa terbaik. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah yang dimulai dari tingkat desa, dengan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Lomba sesungguhnya bukan segalanya. Program Desa HELAU ini merupakan konsep kita membangun daerah dari luar, pinggir, depan, bawah, dan seterusnya,” ujar Supriyanto.
Ia menekankan bahwa penerapan nilai-nilai HELAU tidak boleh berhenti ketika kompetisi selesai. Lima pilar tersebut harus tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan, menciptakan kawasan yang aman dan nyaman, serta meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
“Pekerjaan ini sesungguhnya bukan selesai, tetapi akan dimulai setelah ini,” tegasnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan program HELAU tidak semata-mata diukur dari peringkat yang diperoleh desa, melainkan dari konsistensi pemerintah desa dan masyarakat dalam mempertahankan serta mengembangkan praktik baik yang telah dibangun.
Salah satu upaya memperluas manfaat program HELAU diwujudkan melalui penguatan Teras HELAU dengan konsep 3K, yakni kolam, kandang, dan kebun.
Konsep ini mendorong masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar rumah menjadi kawasan produktif yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan.
Supriyanto mencontohkan, penanaman cabai dan bawang merah di pekarangan rumah dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung upaya pengendalian inflasi daerah.
Sementara itu, pemanfaatan kolam dan kandang dapat menjadi sumber protein keluarga, sehingga masyarakat memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa HELAU tidak hanya berorientasi pada kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga mendorong produktivitas masyarakat serta memperkuat ketahanan pangan dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
Jika dijalankan secara konsisten, pemanfaatan pekarangan melalui konsep 3K berpotensi menjadi praktik sederhana yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat desa.
Supriyanto berharap seluruh desa finalis tetap mengembangkan inovasi dan praktik baik yang telah dirintis, terlepas dari hasil akhir perlombaan.
Menurutnya, pengalaman lima desa tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi desa-desa lain di Lampung Selatan untuk mengembangkan program serupa, dengan menyesuaikan potensi wilayah, ketersediaan sumber daya, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Dengan demikian, kompetisi ini diharapkan tidak hanya melahirkan desa berprestasi, tetapi juga memperluas penerapan pembangunan berbasis lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi keluarga.
Setelah seluruh rangkaian presentasi dan pendalaman materi selesai, hasil penilaian akan dibahas dalam rapat pleno akhir untuk menetapkan peringkat Lomba Desa HELAU Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2026.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap nilai Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul benar-benar menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar indikator penilaian.
Pada akhirnya, keberhasilan HELAU bukan hanya tentang siapa yang meraih predikat terbaik, melainkan sejauh mana program tersebut mampu menciptakan lingkungan yang lebih tertata, memperkuat ketahanan pangan, mendorong kemandirian ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. (Jasmin)