Masa pembinaan di balik tembok lapas bukan semata tentang menjalani hukuman. Di dalamnya ada ruang untuk berhenti sejenak, melakukan introspeksi, memperbaiki diri, memperkuat keimanan, sekaligus menyiapkan langkah baru sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Pesan penuh makna itu disampaikan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan saat memberikan tausiah dan motivasi kepada warga binaan di Masjid At-Taubah, Lapas Kelas IIA Kalianda, Desa Negeri Pandan, Kecamatan Kalianda, Selasa (11/8/2026).
Dalam kunjungan pembinaan dan silaturahmi tersebut, Helmi Hasan mengajak warga binaan untuk tetap sabar, ikhlas, dan istiqomah dalam menjalani setiap tahapan pembinaan.
Menurutnya, masa pembinaan harus dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk membangun kembali kekuatan mental dan spiritual. Setiap proses yang dijalani diharapkan mampu menjadi bagian dari perjalanan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak berhenti pada aspek kedisiplinan. Pembinaan juga menyentuh sisi mental, moral, dan keagamaan sebagai bekal penting bagi warga binaan ketika kelak menyelesaikan masa pembinaan dan kembali berbaur dengan masyarakat.
Kehadiran Gubernur Bengkulu dalam kegiatan tersebut menjadi momentum tersendiri bagi warga binaan. Tausiah dan silaturahmi tidak hanya menghadirkan pesan keagamaan, tetapi juga membuka ruang untuk menumbuhkan kembali keyakinan bahwa masa lalu bukan akhir dari perjalanan hidup.
Setiap orang, dalam kondisi apa pun, tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata kembali masa depan.
Kepala Lapas Kelas IIA Kalianda Beni Nurrahman mengatakan, pembinaan keagamaan secara berkelanjutan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kesiapan mental warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan lapas, kata dia, diarahkan agar warga binaan dapat menjalani proses pembinaan dengan kesadaran, keikhlasan, dan keteguhan hati.
“Teman-teman warga binaan ini sudah siap, sudah ikhlas, sudah istiqomah menerima apa-apa yang menjadi cobaan,” ujar Beni.
Ia berharap seluruh rangkaian pembinaan yang diberikan selama berada di lapas dapat memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. Bekal tersebut diharapkan tidak berhenti ketika masa pembinaan selesai, tetapi dapat dibawa dalam kehidupan sehari-hari saat mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kesiapan mental menjadi salah satu hal yang dinilai penting. Sebab, kepulangan ke tengah masyarakat bukan hanya membutuhkan keberanian untuk memulai kembali, tetapi juga kemauan untuk meninggalkan kebiasaan lama dan membangun kehidupan dengan sikap yang lebih baik.
“Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, kami berharap warga binaan memiliki kesiapan yang lebih kuat untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” kata Beni.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, Anggota DPRD Provinsi Lampung M. Hazizi, Wakil Ketua III DPRD Lampung Selatan Bella Jayanti, Anggota DPRD Lampung Selatan Agus Sartono, Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Supriyanto, Ustaz Derry Sulaiman, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kehadiran unsur pemerintah dan tokoh agama sekaligus memperkuat pesan bahwa warga binaan tetap menjadi bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan, perhatian, dan kesempatan memperbaiki kehidupan.
Dari Masjid At-Taubah, pesan yang dibawa bukan sekadar tentang kesabaran menghadapi masa pembinaan. Lebih jauh, ada ajakan untuk menjadikan setiap hari sebagai kesempatan menata hati, memperkuat iman, dan menumbuhkan optimisme.
Sebab, di balik masa pembinaan selalu ada harapan untuk kembali. Kembali kepada keluarga, kembali ke tengah masyarakat, dan yang terpenting, kembali dengan diri yang lebih baik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiah dan doa bersama warga binaan di Masjid At-Taubah Lapas Kelas IIA Kalianda. (Jasmin)