Memasuki dunia perkuliahan menjadi fase baru bagi mahasiswa untuk menentukan arah perjalanan masa depan. Di tengah berbagai pilihan, tuntutan akademik, dan pengalaman baru, kemampuan mengenali potensi diri menjadi salah satu bekal penting untuk berkembang.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama saat menjadi pemateri dalam kegiatan Harmoni Akademik Nagamandala Untuk Anak Unggul Negeri (Hanuang) 2026 bagi mahasiswa baru Universitas Indonesia Mandiri (UIM) Tahun Akademik 2026/2027, di Kampus UIM, Kecamatan Penengahan, Rabu (16/9/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Egi mengajak peserta melakukan refleksi sederhana untuk mengenali kekuatan yang ada dalam diri masing-masing.
Ia menyebut kekuatan tersebut sebagai “daya ungkit”, yakni potensi yang dapat menjadi modal untuk berkembang apabila dikenali, dilatih, dan dimanfaatkan secara konsisten.
“Daya ungkit adalah kekuatan. Kita sebagai insan manusia diciptakan dan dilahirkan dari rahim seorang ibu, melalui rahim ibu kita, itu pasti dibekali yang namanya kekuatan,” ujar Egi.
Agar mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, Egi kemudian mengajak mereka secara langsung memikirkan dan menuliskan kekuatan yang dimiliki.
Sejumlah mahasiswa bahkan diminta maju ke depan untuk menyampaikan potensi masing-masing. Jawaban yang muncul pun beragam, mulai dari kemampuan berorganisasi, public speaking, matematika, kepemimpinan, olahraga hingga ketertarikan terhadap dunia bisnis.
Bagi Egi, keberanian mengenali potensi diri bukanlah bentuk kesombongan. Kesadaran terhadap kekuatan yang dimiliki justru menjadi bagian penting dalam proses memahami diri dan menentukan ruang untuk berkembang.
“Sadar potensi bukan berarti sombong. Karena orang ingin tampil, orang ingin kasih tahu kalau punya kekuatan, banyak yang terganggu terus dibilang pamer,” katanya.
Egi juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai perjalanan dirinya sendiri.
Menurutnya, sesuatu yang terlihat sebagai keberhasilan sering kali hanya menunjukkan hasil akhir. Proses panjang, kegagalan, perjuangan, serta berbagai keputusan yang dilalui seseorang tidak selalu terlihat dari luar.
“Orang sering terjebak dengan yang namanya bayang-bayang sukses. Tapi orang tidak pernah tahu seperti apa proses yang dilalui oleh orang tersebut,” ujarnya.
Ia kemudian membagikan pengalaman ketika menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Egi menceritakan bahwa pilihan perguruan tinggi maupun jurusan yang dijalaninya dahulu tidak sepenuhnya berangkat dari rencana awal.
Namun, perjalanan tersebut tetap menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Pengalaman itu menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu berjalan persis seperti yang direncanakan. Ketika menghadapi perubahan arah, mahasiswa tidak perlu langsung menganggap dirinya gagal atau kehilangan masa depan.
Yang lebih penting, kata Egi, adalah kemampuan untuk mengenali diri, menjalani proses, serta terus mengembangkan kekuatan yang dimiliki.
Setelah menemukan “daya ungkit”, mahasiswa perlu mengubah potensi tersebut menjadi kemampuan nyata melalui latihan dan pengalaman.
Egi menggambarkan pengembangan diri melalui tahapan sederhana: memetakan potensi, melatihnya, mengeksekusi, mengevaluasi, kemudian mengulanginya secara konsisten.
“Petakan, kemudian dilatih, lalu dieksekusi, kemudian dievaluasi. Terus diulangi. Karena prosesnya enggak ada yang namanya instan di dunia ini. Yang instan hanya Indomie. Indomie pun harus dimasak,” ujarnya yang disambut tawa peserta.
Pesan tersebut menjadi dorongan bagi mahasiswa baru UIM agar masa perkuliahan tidak hanya digunakan untuk mengejar capaian akademik.
Kampus juga dapat menjadi ruang untuk mencoba berbagai pengalaman, membangun relasi, mengikuti organisasi, mengasah keterampilan, serta menemukan bidang yang benar-benar ingin dikembangkan.
Bagi mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademiknya, mengenali potensi diri sejak awal dapat menjadi titik awal untuk menyusun langkah berikutnya. Tidak harus langsung mengetahui seluruh tujuan hidup, tetapi setidaknya memahami kekuatan yang bisa menjadi modal untuk terus bergerak.
Egi berharap mahasiswa membawa satu hal penting dari kegiatan Hanuang 2026, yakni keberanian untuk mengenali kekuatan diri dan mulai mengembangkannya sejak sekarang.
“Yang paling penting keluar dari ruangan ini, adik-adik harus sudah mampu menemukan daya ungkit,” tegasnya.
Ia menutup pemaparannya dengan pesan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi fondasi bagi perubahan yang lebih luas.
“Perubahan besar tidak dimulai dari hal yang besar. Perubahan besar dimulai dari hal yang sederhana,” kata Egi. (Jasmin)