Upaya mendorong petani agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital terus diperkuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar dalam mewujudkan sektor pertanian yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing.
Komitmen tersebut salah satunya ditunjukkan melalui keterlibatan langsung Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Lampung Selatan, Hendry Kurniawan, sebagai narasumber utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengarusutamaan Teknologi Digital di Sektor Pertanian, yang digelar pada Senin (6/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Lampung ini berlangsung di D’Sas Kafe & Resto, Kalianda, dan menjadi ruang strategis lintas sektor untuk membahas percepatan transformasi pertanian berbasis digital yang adaptif dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Hendry menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjawab berbagai tantangan di sektor pertanian, terutama dalam memutus hambatan rantai nilai yang selama ini membatasi kesejahteraan petani.
“Peran strategis Diskominfo tidak hanya sebagai penyedia infrastruktur, tetapi juga dalam penguatan literasi digital serta penyedia platform yang mendukung produktivitas petani secara langsung,” ujar Hendry.
Ia menjelaskan, Diskominfo memiliki fungsi penting dalam menyediakan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mengelola sistem informasi, serta memperluas diseminasi informasi publik agar mudah diakses oleh petani dan pelaku usaha tani.
Lebih lanjut, Hendry memaparkan sejumlah contoh konkret pemanfaatan teknologi digital dalam pertanian. Pada tahap budidaya, petani kini dapat memanfaatkan aplikasi seperti Plantix untuk memantau kondisi tanaman hanya melalui foto daun. Aplikasi tersebut mampu memberikan diagnosis penyakit tanaman, informasi cuaca, hingga rekomendasi kebutuhan pupuk serta estimasi biaya produksi.
Tak hanya itu, teknologi digital juga membuka akses pasar yang lebih luas. Melalui platform marketplace pertanian seperti PakTaniDigital, petani dapat menjual hasil panen, membeli sarana produksi, sekaligus memantau harga pasar secara real time tanpa bergantung pada rantai distribusi konvensional.
Sementara itu, penerapan teknologi Internet of Things (IoT) dalam pertanian dinilai mampu menjadi game changer. Dengan sistem sensor dan monitoring berbasis digital, kondisi tanaman dapat dipantau secara langsung, bahkan memungkinkan perawatan jarak jauh yang lebih efisien dan presisi.
FGD tersebut turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, koperasi, petani, hingga pelaku UMKM. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa digitalisasi pertanian tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan di lapangan.
Mengakhiri paparannya, Hendry mengajak seluruh pihak untuk merumuskan langkah konkret dalam mendorong digitalisasi pertanian yang aplikatif dan berdampak langsung bagi petani.
“Mari kita rumuskan bersama fokus digitalisasi pertanian yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif dan memberikan dampak nyata bagi para pelaku di lapangan,” pungkasnya. (Jasmin)