DBFMRadio.id - Masyarakat nelayan Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, menggelar kegiatan Doa Bersama dan Ruwat Laut di Pantai Keramat Desa Suak, Rabu (28/1/2026), mulai pukul 09.00 WIB. Kegiatan sakral yang sarat nilai budaya dan spiritual ini menjadi wujud syukur sekaligus ikhtiar kolektif menjaga keberlanjutan laut sebagai sumber penghidupan utama warga pesisir.


Acara tersebut dihadiri Camat Sidomulyo, perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lampung Selatan, Anggota DPRD Lampung Selatan Agus Sartono, S.E. (Fraksi PAN), Kepala Desa Suak, Ketua BUMDes, Ketua Koperasi Desa Merah Putih, BPD, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Selatan, serta seluruh nelayan Desa Suak.


Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki laut yang selama ini menopang kehidupan nelayan. Doa juga dipanjatkan agar aktivitas melaut ke depan senantiasa diberi keselamatan dan keberkahan.


Dalam sambutannya, Ketua Kelompok Nelayan Desa Suak menegaskan bahwa ruwat laut adalah tradisi turun-temurun yang tidak sekadar adat, melainkan pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam laut. Ia mengajak seluruh nelayan memperkuat kebersamaan dan kesadaran kolektif dalam merawat ekosistem laut demi keberlanjutan mata pencaharian.


Kepala Desa Suak menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, ruwat laut merupakan simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pemerintah desa, lanjutnya, berkomitmen mendukung kegiatan yang menguatkan nilai budaya, spiritual, serta pelestarian lingkungan pesisir.


Anggota DPRD Lampung Selatan Agus Sartono, S.E. menyatakan dukungannya terhadap pelestarian ruwat laut sebagai kearifan lokal yang harus dijaga. Ia menekankan pentingnya sinergi nelayan, pemerintah desa, dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya kelautan agar tetap lestari dan mampu menopang perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.


Perwakilan Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Selatan menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah menjaga kelestarian laut. Ia mengajak nelayan menerapkan praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan menjaga ekosistem laut sebagai investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.


Puncak acara ditandai dengan arak-arakan perahu nelayan yang berlayar di sekitar Pantai Keramat. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan doa agar laut senantiasa memberikan hasil melimpah serta keselamatan bagi para nelayan.


Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian laut, dilakukan pelepasan baby lobster ke perairan setempat. Aksi ini menegaskan komitmen bersama menjaga keberlanjutan sumber daya laut dan ekosistem pesisir.


Usai rangkaian utama, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama. Suasana penuh keakraban mempererat silaturahmi antara nelayan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.


Kegiatan doa bersama dan ruwat laut ditutup dengan harapan agar tradisi ini terus dilestarikan. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar tempat mengambil hasil, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab demi keberlanjutan kehidupan pesisir. (Arya)