Pemandangan berbeda terlihat di Pendopo Agung, Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan pada Selasa (3/3/2026) petang. Aura formal birokrasi yang biasanya kental mendadak mencair menjadi ruang diskusi yang hidup dan partisipatif.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyambut hangat kedatangan para aktivis mahasiswa dari Aliansi Cipayung Plus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Lampung Selatan. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan tindak lanjut konkret dari aspirasi yang sempat disuarakan mahasiswa dalam aksi pada 23 Februari 2026 lalu.
Kini, teriakan di jalanan bertransformasi menjadi adu gagasan di meja dialog, dibingkai dalam semangat kolaborasi Heksahelix.
Dalam suasana yang terbuka, Bupati Egi menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan ide-ide segar generasi muda menguap begitu saja. Ia meresmikan dukungan penuh terhadap “LamSel ConNextion”, sebuah platform strategis yang dirancang menjadi laboratorium ide, wadah diskusi, sekaligus kompas gerakan pemuda-mahasiswa di Lampung Selatan.
“Pembangunan daerah tidak bisa dilakukan dengan ‘single fighter’. Kita butuh energi pemuda. Mahasiswa bukan lagi sekadar pengawas dari luar, tapi mitra strategis yang duduk bersama kami merumuskan solusi,” tegas Egi.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci menghadapi tantangan pembangunan daerah yang semakin kompleks, mulai dari penguatan ekonomi lokal hingga peningkatan kualitas layanan publik.
Perspektif Akademisi: Lompatan Progresif Tata Kelola
Diskusi hangat tersebut dipandu oleh Naufal A. Caya, akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Tulang Bawang (UTB). Sebagai Direktur Eksekutif SIGER Institute, Naufal menilai langkah Bupati Egi sebagai terobosan komunikasi politik yang inklusif.
“Menempatkan mahasiswa sebagai subjek pembangunan, bukan lagi objek, adalah langkah yang sangat tepat. Model Heksahelix ini memberikan ruang setara bagi pemerintah dan pemuda untuk berkolaborasi secara produktif,” ujarnya.
Mantan aktivis mahasiswa itu menambahkan, dialog ini menjadi momentum emas untuk menginstitusikan partisipasi anak muda dalam proses kebijakan publik. Ia menekankan bahwa kebijakan ke depan harus lahir dari proses yang didukung oleh:
- Riset dan data yang akurat.
- Kepekaan sosial terhadap kebutuhan masyarakat.
- Komunikasi inklusif lintas sektor.
Pertemuan petang itu menjadi sinyal kuat bahwa Lampung Selatan tengah bergerak menuju tata kelola pemerintahan yang lebih modern dan kolaboratif. Dengan semangat Heksahelix, sinergi antara pemerintah dan mahasiswa diharapkan mampu memicu inovasi, khususnya di sektor ekonomi lokal dan pelayanan publik.
“Ketika pemerintah membuka pintu dan pemuda menjawabnya dengan gagasan nyata, di situlah fondasi masa depan Lampung Selatan yang berkelanjutan sedang kita bangun,” tutup Naufal optimistis.
Kini, bola panas ada di tangan para pemuda dan pemerintah. Akankah sinergi ini melahirkan inovasi baru bagi Bumi Khagom Mufakat? Publik menanti aksi nyata dari LamSel ConNextion. (Jasmin)