Lantunan sholawat menggema di Masjid Nurul Huda, Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Selasa malam (8/9/2026).
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, suasana malam itu terasa berbeda. Warga berkumpul bukan sekadar untuk mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga berhenti sejenak, menundukkan hati, memanjatkan doa, sekaligus merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam.
Kegiatan bertajuk Shobat (Sholawat Bareng Bupati) tersebut menjadi ruang spiritual bagi masyarakat untuk memperkuat ikhtiar melalui doa dan kebersamaan.
Pemilihan Way Muli sebagai lokasi kegiatan pun memiliki makna tersendiri. Desa pesisir itu merupakan salah satu wilayah Lampung Selatan yang pernah merasakan dahsyatnya tsunami Selat Sunda pada 2018.
Pengalaman tersebut membuat masyarakat Way Muli memiliki kedekatan emosional dengan dinamika alam di kawasan Selat Sunda, termasuk keberadaan Gunung Anak Krakatau.
Di tengah kondisi tersebut, lantunan sholawat dan doa bersama menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap alam dapat berjalan beriringan dengan rasa syukur, ketenangan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, unsur Forkopimda, jajaran pejabat utama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Camat Rajabasa beserta para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama dalam kesempatan itu mengajak masyarakat melihat fenomena alam yang tengah berlangsung bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga sebagai pengingat untuk memperkuat rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Egi, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali menjadi perhatian publik mengingatkan manusia bahwa alam merupakan titipan yang harus dijaga, bukan sekadar dimanfaatkan.
“Kita sering lupa bahwa Allah menciptakan keindahan alam ini untuk dijaga. Sering kali kita lebih banyak meminta, mengambil, dan memanfaatkan, dibandingkan bersyukur, berdoa, dan merawatnya,” ujar Egi.
Terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik secara bertahap, Egi meminta masyarakat memahami kondisi tersebut secara proporsional serta tetap mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.
Ia menyebut pelepasan energi secara bertahap merupakan bagian dari proses alam yang perlu dipahami. Namun, kewaspadaan tetap harus menjadi prioritas.
“Jika gunung tidak mengeluarkan isinya sedikit demi sedikit, justru itulah yang paling dikhawatirkan. Maka kita bersyukur prosesnya berjalan bertahap, namun tetap harus waspada,” katanya.
Egi juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kesehatan, terutama kelompok rentan yang berpotensi terdampak abu vulkanik, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Tak kalah penting, masyarakat diminta tidak mudah percaya maupun menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi.
“Jangan mudah terprovokasi berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Tetap berpegang pada informasi resmi dari pihak berwenang,” tegasnya.
Bagi Egi, Shobat di Way Muli tidak berhenti pada kegiatan keagamaan. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk kembali mendekatkan pemerintah dengan masyarakat sekaligus memperkuat ikhtiar melalui doa dan kebersamaan.
Ia mengajak masyarakat memohon keselamatan bagi seluruh warga, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan kawasan sekitar Gunung Rajabasa.
“Saya yakin tidak ada yang kebetulan. Ketika kita berkumpul mengagungkan nama Rasulullah, di saat yang sama alam memberikan pesan. Mari kita jadikan momen ini sebagai sarana berdoa, semoga Gunung Anak Krakatau senantiasa membawa keberkahan, dan wilayah Rajabasa serta seluruh Lampung Selatan selalu dilindungi, diberi keselamatan, kedamaian, dan kesehatan,” ucap Egi.
Kesadaran terhadap alam, lanjut dia, tidak cukup hanya diwujudkan melalui kewaspadaan ketika bencana mengancam.
Menurut Egi, kepedulian harus dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai dan pantai, serta merawat lingkungan sekitar merupakan bentuk nyata menjaga keseimbangan alam.
Sebab, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Ketika alam diabaikan, dampaknya dapat kembali kepada manusia dalam berbagai bentuk, mulai dari banjir, kerusakan ekosistem, hingga kerugian sosial dan ekonomi.
Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun kesadaran tersebut mulai dari lingkungan paling dekat.
“Kita hidup dari alam, kita bergantung pada alam. Jika kita merawatnya dengan baik, insyaallah alam pun akan menjamin keselamatan dan kesejahteraan kita semua. Mari kita tanamkan kesadaran ini, mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar,” pesannya.
Malam di Way Muli kemudian ditutup dengan doa bersama dan lantunan sholawat untuk keselamatan masyarakat Lampung Selatan.
Dari desa pesisir yang pernah merasakan dahsyatnya tsunami Selat Sunda itu, pesan yang dibawa pulang menjadi lebih luas dari sekadar kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api.
Ada doa, ada ikhtiar, dan ada kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam.
Sebab, menjaga alam bukan hanya tentang mencegah bencana, tetapi juga tentang menjaga kehidupan yang dititipkan untuk generasi berikutnya. (Arya)