Kemajuan suatu daerah tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusia dalam mengenali, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.


Pesan inilah yang ditekankan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama saat berbagi wawasan dengan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lampung Selatan dalam kegiatan Latihan Kader II (LK II) dan Latihan Khusus Kohati (LKK), di Aula BUMD Lampung Selatan Maju, Kalianda, Rabu (4/11/2026).


Dalam kesempatan tersebut, Egi menyampaikan materi muatan lokal bertajuk “Revitalisasi Potensi Daerah dan Identitas Lokal di Tengah Disrupsi Global”.


Di hadapan para kader mahasiswa, Egi mengajak generasi muda untuk terlebih dahulu mengenali kekuatan dan keunggulan diri masing-masing. Menurutnya, setiap individu memiliki keunikan, kemampuan, serta pengalaman berbeda yang dapat dikembangkan menjadi daya ungkit untuk memberikan kontribusi bagi lingkungan dan masyarakat.


“Enggak ada orang itu dilahirkan dengan kekurangan. Yang ada adalah orang itu dilahirkan dengan keunikannya,” ujar Egi.


Ia menjelaskan, perbedaan kemampuan bukanlah hambatan untuk mencapai tujuan bersama. Sebaliknya, apabila disatukan melalui kolaborasi dan visi yang sama, keunggulan setiap individu justru dapat saling melengkapi dan menghasilkan kekuatan yang lebih besar.


Untuk menggambarkan hal tersebut, Egi mengibaratkan kerja sama antarmanusia seperti kelompok pahlawan dalam film Avengers. Setiap tokoh memiliki kemampuan berbeda, tetapi mampu bersatu dan bekerja sama untuk mencapai satu tujuan.


Menurutnya, prinsip yang sama juga berlaku dalam pembangunan daerah. Kemajuan tidak dapat diwujudkan hanya dengan mengandalkan satu pihak atau satu keunggulan, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen dengan kapasitas masing-masing.


Lebih jauh, Egi mengaitkan pentingnya mengenali potensi diri dengan upaya mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki Kabupaten Lampung Selatan.


Ia menyebut Lampung Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi geografis yang beragam, mulai dari pantai, gunung, kawasan persawahan, hingga hutan. Selain itu, keberagaman masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya juga menjadi kekuatan tersendiri bagi daerah.


Berbagai potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola melalui visi pembangunan yang tepat agar mampu menjadi keunggulan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.


Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar adalah pariwisata. Keindahan alam yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal dapat menjadi daya tarik untuk mengembangkan Lampung Selatan sebagai destinasi unggulan.


Dalam konteks itu, Egi juga menyinggung perubahan narasi daerah dari Pintu Gerbang Sumatra menjadi Beranda Sumatra.


Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian istilah, melainkan bagian dari upaya membangun identitas dan citra daerah. Lampung Selatan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai wilayah perlintasan menuju Pulau Sumatra, tetapi juga menjadi daerah tujuan yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun pelaku ekonomi.


Memasuki era disrupsi global, Egi mendorong kader HMI untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, serta berani menyampaikan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan.


Ia menilai generasi muda harus mampu membaca perubahan zaman, memahami tantangan yang muncul, sekaligus mengambil peran dalam mengembangkan potensi daerah.


Egi berharap para kader HMI dapat mengenali keunggulan masing-masing, membangun jejaring dan kolaborasi, serta menjadikan kemampuan yang dimiliki sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan Lampung Selatan.


“Adik-adik harus mampu memahami keunikannya masing-masing,” pesannya.


Kegiatan LK II dan LKK HMI Cabang Lampung Selatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi kader muda untuk memperluas perspektif, memperkuat kapasitas kepemimpinan, sekaligus memahami peran strategis generasi muda dalam pembangunan daerah.


Melalui penguatan kualitas sumber daya manusia, keberanian berinovasi, dan kolaborasi lintas sektor, potensi individu diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan kolektif.


Sebab, masa depan Lampung Selatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakatnya mampu mengenali, mengelola, dan mengubah potensi tersebut menjadi kemajuan bersama. (Jasmin)