Kepedulian terhadap keselamatan dan kenyamanan wisatawan menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi pariwisata. Hal itu ditunjukkan manajemen Lummay Villa Resort dengan menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Lampung Selatan untuk memberikan edukasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran kepada para karyawannya.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Lummay Villa Resort, kawasan Pantai Minang Tua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Jumat (14/8/2026), diikuti sebanyak 35 karyawan.
Kepala Dinas Damkarmat Lampung Selatan, Sefri Masdian, mengapresiasi inisiatif manajemen Lummay Villa Resort yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan infrastruktur dan daya tarik wisata, tetapi juga menempatkan aspek keamanan sebagai bagian penting dari pelayanan kepada pengunjung.
Menurut Sefri, keamanan dan kenyamanan merupakan salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan masyarakat ketika memilih destinasi wisata. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, termasuk ancaman kebakaran, perlu menjadi perhatian setiap pengelola tempat wisata.
“Saya apresiasi inisiatif manajemen Lummay Villa Resort yang mengundang kami untuk memberikan pelatihan terkait pencegahan kebakaran,” jelas Sefri.
Ia menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelola tidak hanya menyuguhkan panorama keindahan pantai serta fasilitas wisata, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan pengunjung.
“Itu artinya, manajemen tidak hanya menyuguhkan panorama keindahan pantai serta infrastruktur yang ada di dalamnya, tetapi juga memikirkan kenyamanan dan keselamatan pengunjung dari bahaya kebakaran,” lanjutnya.
Sefri mengatakan, langkah tersebut juga sejalan dengan konsep pengembangan pariwisata yang tengah didorong Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, yakni pariwisata berkelanjutan berbasis potensi desa serta penerapan city branding manajemen.
“Wisatawan tentunya ingin menikmati perjalanan dengan rasa aman dan nyaman. Perlindungan dari berbagai ancaman bahaya, termasuk kebakaran, merupakan bagian dari pelayanan dasar yang harus diperhatikan oleh pengelola destinasi wisata,” ujarnya.
Dalam paparannya, Sefri menjelaskan bahwa sebagian besar peristiwa kebakaran masih berkaitan dengan kelalaian manusia. Berdasarkan data Dinas Damkarmat Lampung Selatan, sejak Januari hingga Kamis (13/8/2026), tercatat 100 peristiwa kebakaran di wilayah Lampung Selatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 kejadian disebabkan korsleting listrik, sehingga masyarakat maupun pengelola tempat usaha diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan instalasi dan perangkat listrik.
Sefri mengingatkan, penggunaan colokan listrik secara berlebihan atau bertumpuk dapat memicu panas berlebih (overheating) yang berpotensi melelehkan steker maupun komponen stop kontak hingga menimbulkan percikan api.
“Terlalu banyak perangkat yang dicolokkan membuat arus melebihi kapasitas maksimal stop kontak. Hambatan listrik meningkat dan menghasilkan suhu panas yang membuat komponen plastik steker atau stop kontak dapat meleleh. Dari situ bisa muncul percikan api yang kemudian membakar benda-benda di sekitarnya,” jelas Sefri.
Untuk mencegah kebakaran akibat korsleting listrik, masyarakat diminta tidak menumpuk steker, menggunakan perangkat listrik sesuai kapasitas, serta mencabut peralatan setelah selesai digunakan.
“Hindari menumpuk steker, gunakan sesuai kapasitas, dan cabut jika selesai digunakan,” tegasnya.
Selain korsleting listrik, Sefri juga menyoroti meningkatnya kejadian kebakaran lahan yang mayoritas dipicu aktivitas pembakaran sampah atau lahan.
Memasuki periode akhir Juli hingga Agustus 2026, kondisi kemarau membuat sebagian wilayah Lampung Selatan berada dalam kondisi yang lebih kering sehingga potensi penyebaran api menjadi semakin tinggi.
Dinas Damkarmat mencatat, sejak Juli hingga 13 Agustus 2026, telah terjadi 32 peristiwa kebakaran lahan yang disebabkan pembakaran sampah maupun lahan.
“Upayakan hindari membakar sampah atau lahan. Saat ini sedang musim kemarau yang lebih kering. Sangat berbahaya jika kita membakar sampah atau lahan tanpa adanya pengawasan yang ketat, terlebih jika ada hembusan angin yang kencang,” kata Sefri.
Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai dampak kesehatan dari pembakaran sampah, termasuk potensi munculnya karbon monoksida (CO), gas berbahaya yang tidak berwarna dan tidak berbau serta dapat mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh.
Sementara itu, General Manager Lummay Villa Resort, Kukuh Wibawanto, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk komitmen pihaknya dalam meningkatkan kemampuan karyawan menghadapi situasi darurat.
Menurutnya, pelatihan diberikan agar seluruh karyawan memahami langkah pencegahan kebakaran, penggunaan APAR yang tepat, serta tindakan awal yang harus dilakukan ketika terjadi kondisi darurat.
“Kami berharap melalui kegiatan ini seluruh karyawan dapat lebih memahami prosedur keselamatan dan tanggap darurat, sehingga dapat melakukan tindakan awal yang tepat apabila terjadi kebakaran,” harap Kukuh.
Ia menegaskan, keamanan dan kenyamanan tamu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan di Lummay Villa Resort.
“Kami berupaya memberikan yang terbaik bagi para tamu. Mereka yang berkunjung ke sini dapat lebih menikmati liburannya tanpa ada rasa khawatir terhadap situasi darurat. Kami ingin para tamu merasa nyaman dan aman berkunjung ke sini,” tegasnya.
Setelah sesi pemaparan materi, para karyawan kemudian mendapatkan edukasi mengenai jenis dan fungsi APAR, tata cara penggunaannya, hingga praktik langsung pemadaman api menggunakan alat pemadam api ringan tersebut.
Pelatihan ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan edukasi, tetapi juga membangun budaya sadar keselamatan di lingkungan destinasi wisata. Dengan kesiapsiagaan sumber daya manusia dan pemahaman prosedur penanganan awal, potensi kebakaran diharapkan dapat dicegah maupun diminimalkan sebelum berkembang menjadi keadaan yang lebih besar. (Jasmin)