BPS aktif pantau data Ekspor Impor selama Covid- 19

Ekonomi dan Bisnis
Tools
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

(DBFMRadio.id) : Kalianda – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan dampak penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19 sudah terlihat pada penurunan pada berbagai sektor transportasi serta impor dan ekspor.

Hadir sebagai narasumber di DbfmRadio Jum'at 8/5/2020, Tri Kuncoro Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Selatan Menjelaskan dari data Provinsi yang dia dapatkan banyak sekali sektor-sektor penting yang jumlah angkanya mengalami penurunan.

"Untuk transportasi udara di bandingkan dengan data Januari-Maret 2019 dengan data Januari-Maret 2020 mengalami penurunan sebanyak 18,67%, dan untuk muat barang atau cargo di bulan yang Januari-Maret 2019 mengalami penurunan sebanyak 18,35% , Lalu di Bulan Januari-Maret 2020 mengalami penurunan sebanyak 32%" Jelasnya.

Sedangkan Transportasi Laut untuk Triwulan satu(Januari-Maret) turun sebnyak 17,71 dibanding dengan Triwulan yang sama Tahun lalu, dan untuk jumlah kendaraan dibanding dengan Triwulan yang sama tahun lalu 4,28% dibanding triwulan 4 2019 turun 12,44%. Penurunan ini disebabkan juga karena adanya pemberlakuan Pembatasan sosial berskala besar dari beberapa daerah di Indonesia karena dampak dari covid-19 ini.

Tri juga memamparkan tentang tingkat hunian hotel yang semakin menurun drastis.

"Tingkat hunian hotel di Lampung pada bulan Maret itu 35,77% turun 21,6% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai angka 56% dari okunvensi rate atau tingkat harian kamarnya " terangnya.

Untuk data Ekspor Impor dengan banyaknya karyawan yang sudah di rumahkan jelas jumlah produksi suatu barang di perusahaan juga ikut menurun.

"seperti impor gula USD 41 karena proses produksi berkurang jadi berkurang juga impornya, untuk bulan Maret turun sebanyak 11,01% dibanding dengan bulan februari eskpor nya" ujarnya. Impor terbesar terjadi pada bahan gula atau kembang gula serta binatang hidup.

Impor mengalami kenaikan yaitu pada produk gula yang di pakai untuk bahan baku pangan dan minuman pada perusahaan-perusahan.

Untuk sapi mengalami kenaikan impor sebanyak USD 22juta, biji-bijian berminyak USD 11 juta, ampas makanan USD 5juta serta Mesin sebanyak USD 4,7Juta. Serta untuk ekspor tertinggi itu ada pada minyak atau bahan lemak sebanyak USD 64juta.

Menutup Dialog, Tri menjelaskan BPS juga melakukan pendataan rutin setiap bulannya tentang data transportasi udara,laut dan hotel serta jumlah tamu menginap baik tamu domestik maupun mancanegara. (db/lmhr)